KAB BANDUNG (
).- Permasalahan sampah dan lingkungan masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Bandung. Kebiasaan membuang sampah sembarangan berdampak pada pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan masyarakat, serta meningkatnya risiko banjir akibat tersumbatnya saluran air dan sungai.
Sampah rumah tangga yang dibuang ke sungai dan drainase menjadi salah satu penyebab utama pendangkalan aliran air. Kondisi tersebut kerap memicu luapan air ke permukiman warga saat curah hujan tinggi, sekaligus menurunkan kualitas lingkungan dan kenyamanan masyarakat.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pendekatan Pentahelix mulai diterapkan di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung sebagai upaya kolaboratif dan berkelanjutan dengan dibentuknya Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot.
Pendekatan Pentahelix ini melibatkan lima unsur utama, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media dalam penanganan persoalan lingkungan secara terpadu, termasuk mitigasi dan penanganan banjir.
Pemerintah daerah melalui perangkat kecamatan dan desa berperan dalam penguatan kebijakan, fasilitasi, serta pengelolaan infrastruktur lingkungan.

Akademisi berkontribusi melalui kajian teknis dan rekomendasi mitigasi dan penanganan banjir. Komunitas dan masyarakat menjadi ujung tombak aksi lapangan melalui kerja bakti, normalisasi saluran, dan pengawasan lingkungan secara partisipatif.
Media berperan menyampaikan informasi, mengedukasi publik, serta mendorong dan menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan untuk pengurangan risiko banjir.



