Alokasi Dana tersebut digunakan untuk program budidaya penggemukan sapi sebanyak 20 ekor, dengan harga beli sekitar Rp15 juta per ekor atau total Rp300 juta. Namun dalam perjalanannya, program ini justru diwarnai kerugian.
Dari 20 ekor sapi yang dibeli, saat ini hanya tersisa 14 ekor. Sebanyak 6 ekor sapi dilaporkan mati.
“Enam ekor mati,” tegas Fatah.
Sementara itu, sisa anggaran sebesar Rp70 juta yang rencananya digunakan untuk pembelian pakan konsentrat hingga kini belum direalisasikan dan masih tersimpan di rekening BUMDes.
Fakta ini semakin memperkuat dugaan lemahnya perencanaan program, mengingat kebutuhan dasar seperti pakan justru belum dipenuhi saat kematian ternak terjadi.
Tak hanya itu, proses pengadaan sapi juga dinilai tidak transparan. Fatah mengaku tidak mengetahui jenis sapi yang dibeli maupun spesifikasi teknisnya.
Ia menjelaskan bahwa pengadaan dilakukan oleh kepala unit pengelola yang direkomendasikan langsung oleh Kepala Desa Lamajang, Ade Jalaludin.
“Kami tidak tahu jenis sapinya, tahu-tahu sudah ada,” ungkapnya.



