Menurutnya, aeroseeding bukan pertama kali dilakukan TNI AU. Saat menjabat sebagai Danlanud Halim dan Danwing Malang, kegiatan serupa pernah dilakukan di lereng Gunung Arjuno pascakebakaran hutan dan lahan.
“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa aeroseeding sangat efektif untuk penyebaran bibit secara masif di wilayah ekstrem,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, gagasan aeroseeding berawal dari evaluasi pascabencana yang terjadi di wilayah Arjasari. Ia bersama Forkopimda dan jajaran TNI AU kemudian merumuskan langkah penghijauan dengan pendekatan udara.
“Awalnya pascabencana di Arjasari. Kami rutin berdiskusi dengan Forkopimda dan Danlanud Husein setiap bulan. Dari situ muncul gagasan aeroseeding, karena banyak wilayah rawan yang tidak terjangkau kendaraan,” ujar Dadang.
Ia mengungkapkan, keterbatasan bibit sempat menjadi kendala. Namun, solusi datang dari gerakan pengumpulan biji-bijian oleh para siswa dan orang tua murid di Kabupaten Bandung.
“Alhamdulillah terkumpul 5,2 juta biji-bijian dengan berat hampir 8 ton. Bibit ini siap ditebar di Kabupaten Bandung dan wilayah perbatasan seperti Garut, Cianjur, Sumedang, dan Bandung Barat,” katanya.
Dadang menegaskan, seluruh kegiatan ini tidak menggunakan anggaran APBD, melainkan hasil kolaborasi melalui program CSR dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan berbagai pihak.
“Ini murni kolaborasi. Kami didukung PDAM, Air Bandung Timur (ABT), Bank BJB, BPR, dan beberapa perusahaan di Kabupaten Bandung. Semua demi kepentingan warga,” ujarnya.



