
“Kepala sekolah dan bendahara lagi keluar,” ujar salah satu pihak sekolah.
Ironisnya, ketidakhadiran pimpinan sekolah itu terjadi pada jam kerja dinas, saat media mencoba meminta klarifikasi terkait penggunaan anggaran negara.
Fenomena serupa terjadi pula di SMPN 4 Pangalengan. Saat awak media datang untuk meminta penjelasan terkait data siswa dan pengelolaan dana BOS, pihak sekolah menyampaikan jawaban yang hampir sama.
“Kepala sekolah dan bendahara sedang keluar,” ucap pihak sekolah.
Padahal berdasarkan data yang dihimpun awak media, di sekolah tersebut juga ditemukan perbedaan data yang jauh lebih mencolok.
Di SMPN 4 Pangalengan, jumlah siswa tercatat 940 orang, namun jumlah penerima dana BOS mencapai 886 siswa. Artinya terdapat selisih 246 siswa yang belum dapat dijelaskan.



