Home / PENDIDIKAN / Detail

Digitalisasi Jadi Fokus Penguatan Literasi di Pangandaran

Pewarta Editor
Pewarta: PIRMAN MAOLANA Editor: HERI Sabtu, 07 Februari 2026 12:46 WIB
Digitalisasi Jadi Fokus Penguatan Literasi di Pangandaran
Suasana ruang baca Perpustakaan Kabupaten Pangandaran

PANGANDARAN, (BR.NET),- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangandaran terus mengoptimalkan peningkatan literasi masyarakat dengan menghadirkan berbagai program unggulan yang menitikberatkan pada digitalisasi layanan serta pelestarian budaya lokal.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pangandaran, Dr. Erik Krisnayudha Astawijaya Saputra, S.S., M.Si., menyampaikan bahwa penguatan layanan perpustakaan berbasis teknologi menjadi salah satu prioritas utama yang tengah dikembangkan.

“Fokus kami saat ini adalah penataan dan pengelolaan perpustakaan daerah yang terintegrasi dengan teknologi digital, termasuk pengembangan layanan perpustakaan elektronik serta digitalisasi koleksi agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat,” ujar Erik saat ditemui, jumat (6/2/2026).

Selain penguatan layanan digital, pihaknya juga menjalankan program Pembudayaan Gemar Membaca yang menyasar satuan pendidikan. Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi budaya literasi, peningkatan minat baca, serta pembinaan pustakawan di lingkungan sekolah.

Untuk menarik minat generasi muda, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pangandaran juga menghadirkan Duta Baca di berbagai jenjang pendidikan. Kehadiran duta baca diharapkan mampu menjadi ikon sekaligus motor penggerak literasi di kalangan pelajar maupun masyarakat umum.

“Duta baca kami dorong menjadi motivator agar membaca tidak lagi dipandang hanya sebagai kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Di sisi lain, upaya pelestarian budaya turut dilakukan melalui program Pelestarian Naskah Kuno. Program ini mencakup pendataan, alih media atau digitalisasi, serta preservasi manuskrip bersejarah yang tersebar di wilayah Pangandaran.

Menurut Erik, naskah-naskah kuno tersebut memiliki nilai sejarah dan kearifan lokal yang penting untuk dikenalkan kepada masyarakat. Bahkan, ke depan naskah kuno berpotensi dikembangkan sebagai bagian dari wisata literasi.

“Kami ingin Pangandaran tidak hanya dikenal dengan wisata alamnya, tetapi juga sebagai destinasi wisata literasi. Naskah kuno bisa menjadi daya tarik baru yang mendukung Pangandaran sebagai daerah wisata berkelas dunia,” jelasnya.

Meski demikian, upaya peningkatan literasi di era digital tidak lepas dari tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang digitalisasi koleksi.

“Tantangan terbesar adalah bagaimana menumbuhkan minat baca di tengah dominasi penggunaan smartphone. Karena itu, kami mendorong alih media dari buku cetak ke format digital agar masyarakat tetap bisa membaca melalui gawai,” ungkapnya.

Ke depan, Erik berharap masyarakat Pangandaran semakin menyadari pentingnya membaca literatur yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

“Membaca merupakan kunci untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia. Itulah tujuan utama dari seluruh program literasi yang kami jalankan,” pungkasnya. ***

Sponsored Content

Dukung Jurnalisme Kami

Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, dukung independensi kami agar terus dapat menyajikan berita yang akurat dan terpercaya.

Tags:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tulis Komentar