“Kami ingin Pangandaran tidak hanya dikenal dengan wisata alamnya, tetapi juga sebagai destinasi wisata literasi. Naskah kuno bisa menjadi daya tarik baru yang mendukung Pangandaran sebagai daerah wisata berkelas dunia,” jelasnya.
Meski demikian, upaya peningkatan literasi di era digital tidak lepas dari tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga kebutuhan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang digitalisasi koleksi.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana menumbuhkan minat baca di tengah dominasi penggunaan smartphone. Karena itu, kami mendorong alih media dari buku cetak ke format digital agar masyarakat tetap bisa membaca melalui gawai,” ungkapnya.
Ke depan, Erik berharap masyarakat Pangandaran semakin menyadari pentingnya membaca literatur yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
“Membaca merupakan kunci untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas sumber daya manusia. Itulah tujuan utama dari seluruh program literasi yang kami jalankan,” pungkasnya. ***



