Bandung,
| Hari pertama masuk sekolah menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi 107 murid baru SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung. Melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026, sekolah menghadirkan suasana penyambutan yang hangat, penuh makna, dan jauh dari praktik perpeloncoan yang pernah menjadi stigma kegiatan MPLS pada masa lalu.
Sejak memasuki gerbang sekolah, para peserta didik disambut langsung oleh Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami, Kepala Sekolah, para guru, hingga kakak kelas. Tidak ada bentakan, hukuman, ataupun tugas-tugas yang tidak mendidik. Sebaliknya, setiap siswa menerima bunga sebagai simbol kasih sayang, Al-Qur'an mini sebagai pengingat agar nilai-nilai Islam menjadi pedoman dalam belajar, topi sebagai lambang perlindungan dan semangat menuntut ilmu, serta tumbler sebagai ajakan membangun budaya peduli lingkungan dengan mengurangi sampah plastik.
Tradisi sederhana tersebut bukan sekadar seremoni. Bagi SMP Prima Cendekia Islami, penyambutan itu merupakan bentuk penghormatan kepada setiap anak yang memulai perjalanan baru dalam dunia pendidikan. Sekolah ingin menanamkan rasa aman, nyaman, dan bahagia sejak langkah pertama mereka memasuki lingkungan belajar.

Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami, Hj. Siti Komariah, M.Si., Ph.D, menegaskan bahwa kesan pertama di sekolah akan membentuk cara pandang seorang anak terhadap proses belajar. Karena itu, sekolah sengaja membangun suasana yang penuh kehangatan agar setiap murid merasa dihargai dan diterima sebagai bagian dari keluarga besar SMP Prima Cendekia Islami.
"Kami ingin anak-anak datang ke sekolah dengan hati yang gembira dan penuh harapan. Bunga, Al-Qur'an mini, topi, dan tumbler bukan sekadar hadiah, tetapi simbol bahwa mereka memasuki lingkungan pendidikan yang menjunjung kasih sayang, ilmu pengetahuan, nilai-nilai Al-Qur'an, dan kepedulian terhadap lingkungan. Itulah fondasi pendidikan yang kami bangun," ujar Siti Komariah kepada Bandungraya.Net, Jum'at, 17 Juli 2026.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya menuntut peserta didik menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah membentuk karakter, akhlak, kemampuan beradaptasi, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan agar lahir generasi yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam seluruh rangkaian MPLS yang dirancang sesuai konsep MPLS Ramah. Kepala SMP Prima Cendekia Islami, Beni Saputro, S.Pd., M.Pd, memastikan seluruh kegiatan difokuskan pada proses adaptasi peserta didik terhadap lingkungan sekolah, bukan pada aktivitas yang bersifat menghukum atau mempermalukan siswa.
"Alhamdulillah seluruh rangkaian MPLS berjalan dengan baik. Sejak awal kami ingin menciptakan suasana belajar yang nyaman sehingga anak-anak mampu beradaptasi dengan cepat. Di SMP PCI tidak ada tugas-tugas yang aneh ataupun memberatkan. Kami lebih mengutamakan pembentukan karakter, kesiapan belajar, dan kenyamanan peserta didik agar mereka berkembang secara optimal," katanya.
Selama lima hari pelaksanaan MPLS, para murid diperkenalkan dengan budaya sekolah, tata tertib, serta berbagai program unggulan yang menjadi ciri khas SMP Prima Cendekia Islami. Mereka juga mengikuti Gerakan Literasi "Read to Lead", pembiasaan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta kampanye 3S (Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break) untuk membangun budaya penggunaan teknologi digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, sekolah juga melaksanakan asesmen awal yang meliputi kemampuan literasi dan numerasi, pemetaan bakat serta minat, identifikasi kondisi sosial-emosional, hingga pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan Puskesmas.***



