Bandung (
).- Kepala Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., menggandeng SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Baleendah, Kabupaten Bandung, dalam Glitch Project Belanda yang bekerja sama dengan Avicenna School Rotterdam.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari presentasi Prof. Leli dalam seminar internasional di Belanda pada awal Februari 2026. Guru besar bidang museologi tersebut memaparkan materinya di Bronbeek, Arnhem, pada 6 Februari 2026 serta di University of Rotterdam pada 9 Februari 2026. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Oost Indisch Doof.
Dalam forum yang dihadiri akademisi dan pemerhati sejarah Indonesia itu, Prof. Leli menyampaikan hasil riset, gelar karya, serta memperkenalkan koleksi dan inovasi digital Museum Pendidikan Nasional UPI di kancah internasional.
Sebagai kelanjutan dari rangkaian seminar dan diskusi di Belanda, program ini diimplementasikan melalui Glitch Project (Oost Indisch Doof–Netherlands) dalam pengembangan global citizenship melalui pembelajaran sejarah dan budaya. Implementasi program dilaksanakan melalui pertemuan daring via Zoom pada Selasa, 17 Maret 2026.
Dari Belanda, Oost Indisch Doof menghadirkan para guru sejarah dari Avicenna School Rotterdam. Sementara dari Indonesia, hadir perwakilan dari SMP Prima Cendekia Islami (SMP PCI) Bandung.
Dalam pertemuan tersebut, yang berlangsung Selasa pagi waktu Belanda dan Selasa sore waktu Indonesia, Prof. Leli mempresentasikan peran Museum Pendidikan Nasional UPI sebagai hub dalam program Glitch Project melalui kerja sama kuadripartit. Kerja sama ini bertujuan menciptakan saling pemahaman mengenai sejarah kedua negara yang telah terjalin selama ratusan tahun dengan berbagai dinamika.

Selain itu, Glitch Project menghubungkan sekolah-sekolah di Belanda dan Indonesia dengan memberikan kesempatan kepada guru dan siswa untuk mendiskusikan sejarah serta pengalaman budaya yang sama.
Perwakilan Glitch Project, Hans van den Akker, menekankan pentingnya peran lembaganya dalam menjembatani peradaban Barat dan Timur. Ia juga menyebutkan bahwa program ini mengeksplorasi aspek sejarah, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, melalui diskusi mendalam, pemanfaatan sumber arsip, serta penguatan koneksi digital antarsekolah.
Sementara itu, Nicole van der Steen dari Avicenna School menilai bahwa sistem pendidikan di Indonesia dan Belanda dapat menjadi jembatan peradaban untuk saling mengenal, memahami, dan menghargai perjalanan sejarah kedua negara, khususnya dalam membangun masa depan yang lebih beradab.
“Kami ingin menjalin persahabatan, semacam sister school antara Avicenna School Rotterdam dengan sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya SMP Prima Cendekia Islami. Tujuannya adalah mendorong kesepahaman dan dialog bermakna antara siswa dari budaya yang berbeda,” ujarnya.
Ia menambahkan, para siswa di kedua negara memiliki sejarah yang kaya dan kompleks. Melalui dialog terbuka dan pembelajaran bersama, siswa dapat mengeksplorasi sejarah, budaya, perspektif, serta kewarganegaraan global. Pertukaran lintas budaya ini diharapkan mendorong pemahaman, rasa hormat, serta pengembangan pandangan sejarah yang lebih komprehensif.
Sementara itu, Abhelia Permatasari, S.Pd., M.Pd., dari SMP PCI menyambut baik kerja sama lintas negara tersebut. “Insya Allah, kami akan berbagi pengalaman pembelajaran dari dua sistem pendidikan yang berbeda. Ini merupakan kerja sama internasional kedua kami, setelah sebelumnya dengan Sekolah Indonesia Singapura (SIS),” ujarnya. ***



