Jejak Sejarah: Mengapa Ibu Kota Bandung Pindah dari Krapyak ke Jantung Kota Sekarang?

CEHI
Oleh: CEHI Jumat, 26 Desember 2025 13:26 WIB
Jejak Sejarah: Mengapa Ibu Kota Bandung Pindah dari Krapyak ke Jantung Kota Sekarang?

​Sumber Air Melimpah: Keberadaan Sungai Cikapundung menjamin pasokan air bersih bagi penduduk dan perkantoran.

​Keamanan dan Pertahanan: Secara topografi, wilayah ini dikelilingi pegunungan, yang secara militer dianggap sebagai benteng alami jika terjadi serangan.

​Momentum Kepindahan

​Pada 25 September 1810, Bupati Bandung saat itu, R.A. Wiranatakusumah II, mengeluarkan surat keputusan untuk memindahkan ibu kota dari Krapyak ke lahan baru tersebut. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bandung.

​Bupati terjun langsung memimpin pembangunan infrastruktur awal, mulai dari alun-alun, masjid agung, hingga pendopo bupati yang posisinya masih bisa kita lihat hingga saat ini di pusat kota.

​Transformasi Menjadi "Paris van Java"

​Setelah kepindahan tersebut, Bandung berkembang pesat. Pada tahun 1920-an, pemerintah Hindia Belanda bahkan sempat berencana memindahkan ibu kota dari Batavia (Jakarta) ke Bandung karena iklimnya yang lebih nyaman bagi warga Eropa. Meskipun rencana itu tidak sepenuhnya terwujud, Bandung terlanjur tumbuh menjadi kota modern dengan arsitektur Art Deco yang memukau, yang kemudian memberinya julukan "Paris van Java".

​Kini, dari sebuah wilayah hutan di tepi Cikapundung, Bandung telah bertransformasi menjadi megapolitan yang tetap memegang teguh nilai sejarahnya. ***

Prev
Hal 2 / 2
Penulis

Tentang Penulis

CEHI

Penulis adalah kontributor di rubrik Kolom Bandungraya.net. Isi tulisan ini sepenuhnya merupakan gagasan, opini, dan tanggung jawab pribadi penulis.

Bagikan Opini Ini:

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada tanggapan. Sampaikan pendapat Anda!

Tulis Tanggapan