Pada kesempatan tersebut, Atep turut mengajak generasi muda dan para pelajar untuk aktif menjaga lingkungan dan sumber mata air. Ia berharap pohon-pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlangsungan sumber air di Desa Cibeureum.
“Setelah ditanami, tolong dijaga dan dirawat. Nanti saya akan kembali ke sini. Setahun ke depan pohon-pohon ini harus tumbuh rindang. Kita sedang menyiapkan kehidupan untuk generasi mendatang agar air tetap menghidupi kita semua,” pesannya.
Atep juga berharap upaya pelestarian sumber mata air di Desa Cibeureum dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Bahkan ke depan, Desa Cibeureum ditargetkan menjadi desa percontohan dalam menjaga ketahanan sumber daya air.
Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber air di tengah meningkatnya kebutuhan air dan menipisnya ketersediaan alam. Tanpa langkah nyata sejak dini, krisis air berpotensi menjadi masalah besar di masa mendatang.
“Oleh karena itu, kolaborasi ini sangat penting sebagai media edukasi lingkungan secara masif, khususnya bagi generasi milenial dan masyarakat sebagai pengguna utama sumber mata air,” jelas Atep.
Sementara itu, masyarakat yang terlibat dalam kegiatan penanaman pohon menyambut baik dan mendukung penuh Program Cijagra. Menurut mereka, gerakan menanam pohon ini merupakan kegiatan mulia yang tidak hanya menjaga kelangsungan sumber air, tetapi juga mencegah bencana alam seperti longsor dan kekeringan.
Program yang diprakarsai oleh Pemerintah Desa Cibeureum ini dinilai mampu mendorong masyarakat sekitar untuk lebih peduli dan berperan aktif dalam merawat serta menjaga kelestarian sumber mata air di Desa Cibeureum. ***



