“Pemimpin itu bukan pekerja tunggal, melainkan dirigen. Jika orkestra tidak kompak, yang terdengar sumbang bukan hanya satu alat musik, tetapi keseluruhan pertunjukan,” katanya.
Sekjen juga menyoroti pentingnya indikator kinerja yang transparan. Publik berhak mengetahui target apa yang tidak tercapai, di mana letak hambatan, serta siapa yang bertanggung jawab. Tanpa keterbukaan tersebut, pengakuan gagal hanya menjadi narasi emosional, bukan langkah solutif.
Ia menambahkan, Kabupaten Garut tidak berada dalam situasi yang bisa ditangani dengan ritme lambat. Tantangan kemiskinan, pengangguran, dan pelayanan publik membutuhkan kepemimpinan yang berani mengambil keputusan strategis, bukan sekadar menjelaskan mengapa perubahan belum terjadi.
“Tahun kedua harus menjadi momentum pembuktian. Jika tidak, publik akan kehilangan kepercayaan. Dan dalam politik, hilangnya kepercayaan adalah awal dari delegitimasi,” pungkasnya. ***



