Bandung, (
).- Pemerintah terus menggaungkan komitmen pengentasan kemiskinan melalui berbagai program bantuan sosial dan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Namun di lapangan, realitas kerap berkata lain.
Di Kampung Pasirhuni, Desa Pasirhuni, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Budi (60) bersama istri dan tiga anaknya masih bertahan hidup di rumah yang jauh dari kata layak.
Lantai tanah, dinding bilik bambu rapuh, serta baliho bekas yang dipasang seadanya menjadi penahan angin dan hujan yang setiap saat bisa masuk tanpa permisi.
Rumah itu bukan sekadar bangunan reyot, melainkan simbol keterlambatan kehadiran negara di tengah warga paling rentan.
Setiap hari, Budi berkeliling kampung menggunakan sepeda motor tua untuk menjajakan ubi Cilembu, jagung manis, dan sayuran. Penghasilannya tidak menentu, bahkan kerap pulang tanpa membawa uang.
“Saya tetap keliling, mau hujan atau panas. Yang penting anak-anak bisa makan, walaupun seadanya,” ujar Budi, Senin (29/12/2025).
Pada akhir pekan, ia mencoba mengais rezeki di kawasan wisata Cimaung dan Pangalengan. Namun upaya tersebut belum mampu mengubah kondisi hidup keluarganya secara signifikan.



