Ai Suryani menegaskan bahwa keluarganya bukan tidak ingin hidup layak, melainkan benar-benar tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumah.
“Suami saya kerja serabutan. Penghasilannya tidak tentu. Kadang cukup buat makan, kadang tidak. Untuk memperbaiki rumah, kami benar-benar tidak sanggup,” katanya lirih.
Ia mengaku sering menahan tangis, terutama saat hujan turun di malam hari.
“Kalau hujan malam, saya suka nangis sendiri. Takut anak-anak sakit, takut rumah makin rusak. Tapi kami hanya bisa pasrah,” ujarnya.
Keluarga Budi juga sempat hidup dalam tekanan batin akibat persoalan tanah yang membelit mereka. Persoalan tersebut kini telah dibantu dan diselesaikan oleh Kepala Desa Pasirhuni, Agus Sumpena.
“Alhamdulillah, sekarang sudah dibantu Pak Kepala Desa. Kami sangat berterima kasih,” ujar Budi.
Namun hingga kini, persoalan paling mendasar, yakni rumah tidak layak huni dan belum tersentuhnya bantuan sosial, masih menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi.
“Sampai sekarang kami belum pernah menerima bantuan sosial apa pun,” ungkap Budi.



