GARUT,
| Peringatan Hari Kartini di Kabupaten Garut diisi dengan refleksi mendalam mengenai perubahan peran perempuan di tengah arus disrupsi teknologi. Dalam dialog yang digelar di Farm House, Kecamatan Cilawu, Selasa (21/4/2026), bahasan perempuan kini dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai ekologi.
Fenomena ini salah satunya dipicu oleh meningkatnya penggunaan gawai di berbagai kalangan, termasuk anak-anak. Ketergantungan terhadap teknologi dinilai telah membentuk pola pikir dan perilaku baru, di mana kebutuhan dan keinginan kerap dipengaruhi oleh apa yang terlihat di layar.
Kondisi tersebut tergambar dari perilaku anak usia sekolah dasar yang menangis karena menginginkan produk perawatan diri, mencerminkan pergeseran nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Aktivis perempuan dan tokoh lingkungan Garut, Nissa Saadah Wargadipura, mengungkapkan bahwa disrupsi teknologi tidak hanya berdampak pada pola konsumsi, tetapi juga memengaruhi relasi sosial dan emosional anak. Ia menyoroti meningkatnya kasus perundungan serta berkurangnya peran orang tua yang perlahan tergantikan oleh gawai.
"Disrupsi ini tidak hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut emosi. Ketika emosi tidak terkelola dengan baik, dampaknya bisa sangat luas, termasuk pada cara kita memandang kehidupan dan lingkungan," ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan emosi memiliki keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan yang semakin terdegradasi. Penurunan kualitas lingkungan turut memengaruhi kualitas hidup, termasuk kesehatan reproduksi.
Selain itu, pola konsumsi yang tidak sehat, seperti tingginya asupan gula dan makanan instan, dinilai memperburuk kondisi generasi muda. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan fisik dan kemampuan berpikir anak.
Dalam konteks tersebut, perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam menentukan arah perubahan. Kesadaran perempuan menjadi kunci, apakah akan mengikuti arus disrupsi atau membangun generasi yang lebih kuat dan sehat.



