Bandung,
| SMP Prima Cendekia Islami (PCI) Baleendah kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berwawasan global. Sekolah tersebut menerima kunjungan kehormatan dua tokoh pendidikan asal Belanda, Petronella Leonoran, Founder The Oos Indisch Doof, dan Christiaan Hendrik Bruggenkam, penggagas Project Glitch, pada Kamis (30/7/2026).
Kunjungan ini menjadi tonggak penting dalam penguatan kerja sama internasional yang selama beberapa bulan terakhir dibangun antara SMP Prima Cendekia Islami, Avicenna College Rotterdam, Belanda, dan Museum Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kemitraan tersebut diarahkan untuk menciptakan ruang pembelajaran lintas negara yang mampu mempertemukan peserta didik dari Indonesia dan Belanda dalam sebuah proses belajar yang saling memperkaya wawasan.
Kolaborasi ini tidak sekadar menjadi hubungan antarlembaga pendidikan, tetapi merupakan upaya membangun jejaring pendidikan global yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran, pertukaran pengalaman, penguatan karakter, serta pengembangan kompetensi peserta didik agar mampu menghadapi tantangan dunia yang semakin terbuka.
Sebagai sekolah menengah Islam di Rotterdam yang aktif mengembangkan kerja sama internasional, Avicenna College bersama SMP Prima Cendekia Islami akan mengembangkan berbagai program pendidikan kolaboratif. Salah satu fokus utamanya adalah pembelajaran sejarah internasional yang mengangkat hubungan Indonesia dan Belanda, khususnya pada masa kolonial, sebagai media untuk membangun pemahaman bersama terhadap perjalanan sejarah kedua bangsa.
Selama berada di lingkungan SMP Prima Cendekia Islami, Petronella Leonoran dan Christiaan Hendrik Bruggenkam meninjau secara langsung aktivitas pembelajaran di kelas, berdialog dengan guru, berinteraksi bersama para murid, sekaligus membahas berbagai peluang kerja sama yang dapat diwujudkan dalam bentuk program pendidikan berkelanjutan.
Melalui pembelajaran sejarah yang dikembangkan secara kolaboratif, para murid dari Indonesia dan Belanda diharapkan mampu membangun mutual understanding atau saling memahami berdasarkan fakta sejarah yang utuh. Mereka tidak hanya diajak mempelajari peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami berbagai perspektif yang berkembang, menghargai perbedaan latar belakang budaya, serta menumbuhkan nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan perdamaian dalam kehidupan global.
Kepala SMP Prima Cendekia Islami, Beni Saputro, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa kerja sama internasional tersebut merupakan bagian dari strategi sekolah dalam mempersiapkan peserta didik menjadi generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
"Kami meyakini bahwa pendidikan abad ke-21 harus mampu menghubungkan peserta didik dengan dunia internasional tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia. Kehadiran Ibu Petronella Leonoran dan Bapak Christiaan Hendrik Bruggenkam menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi murid-murid kami untuk belajar langsung dari perspektif global, khususnya dalam memahami sejarah kolonial secara kritis, objektif, dan humanis. Kami berharap kerja sama ini melahirkan berbagai program pembelajaran lintas negara yang mampu memperkaya pengalaman belajar sekaligus membentuk karakter peserta didik yang terbuka terhadap keberagaman," ujar Beni.
Kunjungan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Museum Pendidikan Nasional UPI yang selama ini menjadi mitra dalam pengembangan program pembelajaran sejarah berbasis kolaborasi internasional. Kepala Museum Pendidikan Nasional UPI, Prof. Dr. Leli Yulifar, M.Pd., yang turut mendampingi delegasi Belanda, menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan merupakan langkah penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang unggul dan berdaya saing global.
Menurutnya, kolaborasi antara SMP Prima Cendekia Islami, Avicenna College Rotterdam, Universitas Pendidikan Indonesia, serta berbagai mitra pendidikan di Belanda menjadi jembatan yang menghubungkan sejarah, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui proses pembelajaran.
"Melalui dialog lintas bangsa, kita ingin menumbuhkan generasi yang memiliki wawasan global, berpikir kritis, serta mampu membangun perdamaian dan saling pengertian berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Kami berharap kemitraan ini menjadi model kolaborasi pendidikan internasional yang memberikan manfaat nyata, baik bagi Indonesia maupun Belanda," kata Prof. Leli Yulifar.
Ke depan, kemitraan ini diharapkan terus berkembang melalui berbagai program nyata, seperti pembelajaran bersama secara daring maupun luring, diskusi sejarah lintas negara, pertukaran budaya, penelitian pendidikan, pengembangan bahan ajar, hingga proyek kolaboratif yang melibatkan guru dan peserta didik dari kedua negara.
Bagi SMP Prima Cendekia Islami, kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Di tengah pesatnya arus globalisasi, sekolah tidak hanya dituntut mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang memiliki karakter kuat, wawasan internasional, berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta siap menjadi warga dunia tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan dan budaya Indonesia. ***



