6. Jepang (1942 – 1945): Penjajah terakhir sebelum kemerdekaan Indonesia, mengambil alih dari Belanda saat Perang Dunia II.

Dalam kungkungan kolonisasi itu, pendudukan Mataram lebih dari dua abad memiliki pengaruh paling kuat bukan saja ekonomi dan politik, bahkan budaya Sunda pun dijajahnya sehingga menjadi dasar terjadinya perubahan budaya bahasa Sunda sebagaimana perkembangan bahasa Sunda yang kita ketahui hingga sekarang ini. Para menak (kelas menengah) Sunda saat itu dipaksa untuk berbahasa Jawa dalam berkomunikasi. Begitu pula dalam berkorespondensi, baik dalam surat-surat kepemerintahan maupun pribadi.
Kondisi demikian membuat salah perhitungan para kolonial Eropa saat mulai menguasai wilayah Sunda setelah Mataram. Mereka dalam waktu yang cukup lama menganggap bahasa Sunda sebagai varian (dialek) dari bahasa Jawa dan bahkan menurut Moriyama (2001), orang Sunda disebut sebagai bergjavaans (Jawa Gunung ). Kondisi itu berlangsung alamiah karena Mataram menjadi sentrum kekuasaan dan peradaban Pulau Jawa saat itu. Ada masanya masyarakat suatu bangsa lebih merasa berharga ketika menggunakan bahasa bangsa lain, yaitu ketika mereka kehilangan kebanggaan pada bahasanya sendiri, yang berarti merosotnya kepercayaan mereka pada jatidiri.
Kembalinya mereka kepada bahasa sendiri hanya dimungkinkan saat kepercayaan pada jatidiri tumbuh kembali dan berhasil melepaskan diri dari kungkungan rendah dirinya dan coba menjadi sentrum tandingan. Disinilah pentingnya sebagai masyarakat Sunda dituntut untuk terus menggali budaya sejatinya sendiri yakni Bahasa Sunda yang sebelum dipengaruhi ‘penjajah’ Mataram. **
Penulis: Pemerhati Kesejarahan & Budaya



