Elis menambahkan, pasca perusakan kebun teh, wilayah Kampung Lakbong sempat dilanda banjir.
“Setelah kebun dirusak, pernah terjadi banjir di Kampung Lakbong. Dulu tidak pernah seperti itu,” katanya.
Ia berharap lahan yang telah rusak dapat dipulihkan kembali. “Harapan saya kebun ini dikembalikan lagi menjadi kebun teh,” imbuhnya.
Menurut Elis, luas kebun teh yang dialihfungsikan mencapai lebih dari 150 hektare. Ia juga mengungkap adanya dugaan keterlibatan pihak internal perkebunan.
“Ada oknum pengurus perkebunan yang bermain dengan para perusak lahan kebun,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Nanang, karyawan kebun teh di Afdelling Cinyiruan, Sektor Tirtasari, yang telah bekerja lebih dari 35 tahun. Ia mengaku sangat terpukul melihat kebun teh yang menjadi tumpuan hidup keluarganya kini rusak.
“Saya sedih sekali. Dari kebun teh ini saya bisa makan dan menyekolahkan anak,” ujarnya.
Nanang menuturkan, bekerja di perkebunan teh telah menjadi bagian dari sejarah keluarganya lintas generasi.
“Dari buyut, kakek, nenek, semuanya bekerja di kebun teh ini,” katanya.



